Scroll untuk baca artikel
banner 728x90
HeadLineMedan

Gerakan Daur Ulang di Kampus Mulai Digalakkan, Sampah Kertas di UINSU Disulap Jadi Rupiah!

123
×

Gerakan Daur Ulang di Kampus Mulai Digalakkan, Sampah Kertas di UINSU Disulap Jadi Rupiah!

Sebarkan artikel ini
Tumpukan Kertas Bekas Ternyata Bisa Jadi Cuan! Sekali Timbang Hasilkan Ratusan Ribu

MEDAN – Kesadaran akan kebersihan lingkungan kini tengah menjadi tren positif di dunia pendidikan. Salah satunya seperti yang terlihat di lingkungan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).

Saat ini, Gerakan Daur Ulang di Kampus Mulai Digalakkan, khususnya di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UINSU. Tumpukan kertas bekas yang biasanya hanya dianggap sampah, kini diubah menjadi sumber pendapatan alias “cuan” bagi civitas akademika.

Kegiatan inspiratif ini diinisiasi oleh tim dosen dari beberapa perguruan tinggi melalui program pengabdian masyarakat. Mereka turun langsung menyosialisasikan bahwa kertas bekas tugas kuliah, dokumen administrasi, hingga arsip lama memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Program ini memberikan edukasi lengkap kepada dosen, pegawai, hingga mahasiswa. Mereka diajarkan cara:

  • Memilah jenis kertas yang layak jual.

  • Mengumpulkan sampah kertas secara terorganisir.

  • Menyalurkan hasil pilahan ke pengepul daur ulang.

Hasilnya? Ruangan kerja dan kelas menjadi jauh lebih rapi dan bersih. Tak hanya itu, dompet pun ikut terisi dari hasil penjualan kertas tersebut.

Asri Afriliany Surbakti, salah satu anggota tim pengabdian, menyebut bahwa kampus adalah “tambang” kertas bekas yang luar biasa.

“Kampus menghasilkan banyak kertas dari aktivitas akademik setiap harinya. Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tapi juga menumbuhkan budaya peduli lingkungan yang produktif,” ungkap Asri.

Pantauan di lokasi, para mahasiswa terlibat aktif menyisir berbagai ruangan untuk mengumpulkan kertas. Tak tanggung-tanggung, dari satu ruangan saja bisa terkumpul ratusan kilogram kertas.

Kertas-kertas ini kemudian ditimbang dan langsung dijual ke pengepul. Hasilnya mencapai ratusan ribu rupiah. Meski nilainya mungkin terlihat sederhana, namun potensi berkelanjutannya sangat menjanjikan jika rutin dilakukan.

Selain manfaat ekonomi, gerakan ini juga sukses mengubah pola pikir civitas akademika. Banyak yang mulai sadar bahwa membakar sampah kertas adalah tindakan keliru karena memicu polusi udara dan mengganggu kesehatan.

Ke depan, tim pengabdian berharap gerakan ini menjadi cikal bakal sistem “Tabungan Sampah” yang lebih terstruktur bagi mahasiswa dan staf di UINSU.

“Kami ingin mendorong perubahan kebiasaan kecil. Jika setiap ruangan mulai memilah, kampus bisa menjadi contoh nyata pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” tutupnya.


Penulis: [Rizky Franchitika, S.T., M. Eng. dan Asri Afriliany Surbakti, S.T., M.T]
Editor: [Alamsyah Hsb]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *