Tag: G20

  • Ini Pernyataan Mahasiswi UNUD, Satukan Komitmen Untuk Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim di Puncak G20

    Ini Pernyataan Mahasiswi UNUD, Satukan Komitmen Untuk Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim di Puncak G20

    BALI | Media TribuSumut. Com –

    Perubahan Iklim dan lingkungan Hidup menjadi salah satu Tajuk utama pembahasan di puncak pertemuan Presidensi KTT G20 di Bali.

    Dalam pertemuan sebelumnya, Environment Deputies Meeting and Climate Sustanability Working Group (EDM-CSWG) di Bali (29 /8), dihadiri oleh 211 delegasi dari negara- negara anggota G20, negara undangan, dan komunitas internasional, menyatakan sikap untuk meningkatkan  upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian perubahan iklim global.

    Dimana, pembahasan isu lingkungan dan perubahan iklim dalam G20, mempunyai korelasi yang saling berkaitan.

    Salah satunya laut dan iklim, karena iklim dengan suhu yang semakin meningkat, akan mempengaruhi laut dari bebagai aspek.

    EDM-CSWG pada presidensi G20 kali ini, mengusung tiga isu prioritas yang menjadi fokus pembahasan dari beberapa pertemuan sebelumnya, ketiga isu prioritas tersebut adalah,

    (1) Mendukung pemulihan yang berkelanjutan (supporting more sustainable recovery).

    (2) Peningkatan aksi berbasis daratan dan lautan, untuk mendukung perlindungan
    lingkungan hidup, dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing land-and sea-based actions to support environment protection and climate objectives).

    (3) Peningkatan mobilisasi sumber daya, untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup, dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing resource mobilization to support environment protection and climate objectives).

    Ketiga isu prioritas tersebut, melalui dua poin utama yaitu, segi lingkungan dan perubahan iklim.

    Sedangkan dalam Climate Sustainability Working Group (CSWG), dilakukan
    pembahasan 3 studi yaitu.

    (1) Peran co-benefit mitigasi-adaptasi untuk menciptakan masa depan yang lebih
    tangguh bagi semua.

    (2) Percepatan Implementasi NDC (Nationally Determined Contribution) dan transisi berkelanjutan menuju masa depan rendah emisi GRK (Gas Rumah Kaca) serta ketahanan iklim melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon.

    (3) Memperkuat aksi, dan kemitraan untuk inisiatif kelautan yang berkelanjutan.

    Negosiasi kesepakatan serta komitmen negara-negara dunia terhadap isu prioritas dan misi-misi utama lingkungan akan dibahas dan dirumuskan menjadi komitmen kolektif KTT G20 melalui adopsi komunike Menteri-Menteri Lingkungan Hidup dan iklim.

    Iklim G20 sebagai dokumen utama hasil pertemuan diharapkan, akan menjadi tindakan nyata yang dapat membawa manfaat bagi masyarakat dunia dalam memperbaiki lingkungan, sesuai dengan tema recover together, recover stronger.

    Menariknya, salah satu mahasiswi Universitas Udayana, Sahara Putri Ayu Kenanga Gunawan dari fakultas kedokteran yang peduli terhadap lingkungan mengatakan bahwa, dirinya mendukung KTT G20, khususnya dalam isu  lingkungan hidup dan perubahan iklim.

    “Terkait isu pembahasan lingkungan hidup serta perubahan iklim, karena prodi yang saya ambil kesehatan masyarakat/peminatan kesehatan lingkungan, membuat saya mendukung, untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih baik dengan komitmen dan kebijakan negara-negara dunia terhadap aksi nyata memperbaiki lingkungan,” ujarnya.

    Ditambahkannya sebagai penerus generasi muda, dirinya berharap komitmen ini, bukan hanya menjadi isapan jempol belaka, akan tetapi dapat selalu dimonitor di setiap negara, serta di evaluasi.

    “Harapan saya konferensi ini bukan hanya sekedar kesepakatan yang dibubuhi tanda tangan, pemimpin negara dunia harus berkomitmen terhadap aksi nyata yang berkelanjutan dengan monitoring, dan evaluasi, terhadap pelaksanaan konferensi terkait isu lingkungan dari tahun
    ke tahun dan, dilakukan secara berkelanjutan agar tujuan di masa depan yang dirumuskan dalam KTT G20 dapat benar-benar terwujud,” tandasnya, biasa disapa sahara kepada awak  Media TribunSumut. Com

    Selasa, (15/11/2022).

    (red)

  • Suriyanto PD, Greenpeace Sebaiknya Mengemukakan Pendapat Setelah Acara G20

    Suriyanto PD, Greenpeace Sebaiknya Mengemukakan Pendapat Setelah Acara G20

    Jakarta | MediatribunSumut.Com

     

    Tim pesepeda ‘Chasing the Shadow’ Greenpeace Indonesia berencana mengampanyekan krisis iklim pada perhelatan G20 di Bali.

    Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Wartawan Republik Indonesia (DPP PWRI) Dr. Suriyanto PD, SH, MH, MKn, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi terhadap penghormatan tamu-tamu negara, seharusnya rencana demo soal iklim di tengah perhelatan KTT G20 di Bali tidak dilakukan.

    Sebagai bangsa yang santun dan berbudaya, seharusnya kita turut menjaga dan mensukseskan hajat internasional KTT G20 di Bali. Hal ini penting untuk menjaga kondusifitas dan keamanan saat perhelatan KTT G20 berlangsung.

    Ini bukan soal pengebirian demokrasi, tapi penghormatan terhadap tamu-tamu negara.

    “Pengejawantahan pasal 28e UUD 1945, harus jelas, bukan seenaknya juga kita sebagai bangsa bicara demokrasi di saat negara mengadakan perhelatan dunia,” kata Suriyanto melalui keterangan di Jakarta, Kamis (10/11/2022) malam.

    “Ada apa penyikapan iklim dilakukan saat akan diadakannya KTT G20?” tambah Suriyanto
    Menurut pakar hukum pers ini, survey ormas juga harus jelas apakah benar ormas-ormas berafiliasi ke pemerintah.

    “Ormas-ormas yang sadar akan berbangsa dan bernegara tidak melakukan demo atau sejenisnya di saat negara mengadakan acara perhelatan dunia untuk kepentingan bangsa dan negara,” tuturnya.

    “Apakah iya melakukan aksi dengan murni tanpa ada yang menunggangi di saat negara sedang akan laksanakan acara dunia. Menurut saya silahkan mengemukakan pendapat sebagai bangsa yang santun lakukan setelah acara G20,” pungkasnya.

    Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan berlangsung pada 15-16 November 2022 di Bali. Mengacu pada thema yang diusung Indonesia Presidensi KTT G20 tahun 2022, ada tiga issue prioritas/utama yang akan dibahas dalam pertemuan puncak tersebut meliputi arsitektur kesehatan global, transisi energi berkelanjutan, serta transformasi digital dan ekonomi.

    Rilis DPP PWRI

    (red)

  • Momentum G20 Bali, Prof. Muhammad Berharap AS, Tiongkok dan Indonesia, Bisa Mewujudkan Tata Dunia Yang Damai Dan Adil

    Momentum G20 Bali, Prof. Muhammad Berharap AS, Tiongkok dan Indonesia, Bisa Mewujudkan Tata Dunia Yang Damai Dan Adil

    Jakarta | Mediatribunsumut.com

     

    Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping dijadwwalkan akan bertemu empat mata di sela-sela KTT G20 Bali.

    Pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada 14 November itu akan menjadi yang pertama kalinya sejak Biden menjabat sebagai Presiden AS pada awal 2021.

    Dalam sebuah pernyataan pada Kamis (10/11/2022), Gedung Putih mengatakan Biden akan berbicara dengan Xi tentang upaya untuk mempertahankan dan memperdalam jalur komunikasi antara kedua negara pada saat ketegangan meningkat.

    Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA mengatakan, bertemunya Bidan dan Jinping di sela-sela KTT G20 Bali, diharapkan membawa angin segar bagi upaya perdamaian dunia.

    “Kita harus berbangga, dimana Indonesia bisa memberi ‘ruang’ kepada kedua pemimpin negara adidaya tersebut. Kita berharap, bertemunya Biden dan Jinping, sebagai angin segar bagi terciptanya perdamaian dunia,” kata Prof. Muhammad Azhar, MA, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (13/11/2022) malam.
    Melalui momentum G20 Bali, Prof. Muhammad berharap AS, Tiongkok dan Indonesia, bisa wewujudkan tata dunia yang damai dan adil.

    “Pasca covid 19, peluang pemulihan ekonomi dunia terhalang oleh perang Rusia Ukraina yang diprovokasi oleh AS dengan melibatkan negara-negara lain dari luar Eropa. Embargo ekonomi terhadap Rusia berdampak munculnya ekonomi pasar gelap yang merusak stabilitas ekonomi global,” ujarnya.

    Peran Multilateralisme PBB, kata Muhammad Azhar, menjadi melemah akibat aksi unilateralisme dalam bentuk agresi, aneksasi dan invasi.

    “Peran Indonesia secara lebih aktif sangat diharapkan sesuai politik luar negeri Indonesia yang Bebas-aktif (Non-alignment) sejak KAA Bandung 1955. AS dan Tiongkok harus serius mengatasi dampak kekerasan di Suriah, Yaman, Myanmar, Ukraina, Palestina, Uighur, dll. Dunia jangan membiarkan konflik konflik kecil yang berdampak menjadi skala besar,” tuturnya.

    Muhammad Azhar mengungkapkan, AS, Tiongkok dan Indonesia wajib menginisisasi reformasi PBB: pertama, status yg permanen 5 negara. Kedua, tentang hak veto. Ketiga, keterwakilan regional dan jumlah negara dalam keanggotaan tidak tetap.

    Menguatnya Xenofobia

    Xenofobia adalah sikap dan perilaku yang “anti” terhadap asing atau sesuatu yang asing, bukan hanya dalam pengertian orang asing, melainkan juga termasuk kepada sikap ‘anti’ dan penolakan terhadap hal-hal yang dianggap asing, seperti keyakinan, budaya, identitas, tradisi dll.

    Dalam sejarah, sikap xenofobia ini telah menyebabkan berbagai tindakan intimidasi, diskriminasi, bahkan genosida.

    Muhammad Azhar menyebut, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir ini terjadi kenaikan tendensi xenofobia dan Islamofobia di Eropa pasca membanjirnya pengungsi konflik
    di Timur Tengah dan Afrika, dan Amerika setelah terpilihnya Presiden Trump menjadi pemimpin negara adidaya tersesebut.

    “Persoalan ini harus disikapi dengan serius, agar perdamaian dunia benar-benar bisa terwujud,” kata Muhammad Azhar.

    Ungkap Muhammad Azhar, belakangan, akibat merebaknya wabah Covid-19 dari Kota Wuhan, Cina, juga menyebabkan maraknya fenomena xenofobia terhadap etnis Cina dan orang asia secara umum di sejumlah negara Barat. Di tengah globalisasi yang menjadikan dunia semakin sempit dan aktivitas kehidupan yang saling berhimpit, tren xenofobia membuat perjalanan peradaban mundur ke abad kegelapan.

    “Perlu kerja sama lintas organisasi kenegeraan maupun swasta atau civil society,” tuturnya.
    Penulis: Jagad N

     

    (Red)